Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim mengendalikan Selat Hormuz dan berencana mendeklarasikan selat itu sebagai bagian wilayah AS usai menang perang lawan Iran. Namun klaim itu dinilai sebagai kekalahan Trump dalam perang lawan Iran.
“Klaim Amerika Serikat sebagai pengendali Selat Hormuz dibuat saat posisi AS sudah berada pada posisi babak belur di dalam dan luar negeri. Hal ini sangat menyakitkan bagi Presiden Trump dan Partai Republik, dan industri pertahanan AS,” kata Pakar Hubungan Internasional President University Teuku Rezasyah, kepada wartawan, Minggu (16/8/226).
Reza menyebut klaim Trump ini dibuat untuk memberikan optimisme Partai Republik menjelang Pemilu AS pada November mendatang. Menurutnya, jika Partai Republik tetap unggul, maka Donald Trump tidak bisa dimakzulkan.
“Klaim ini juga dibuat untuk meyakinkan seluruh sekutunya di dunia, jika AS masih mampu memimpin secara politik, moral, diplomatik, dan militer. Walaupun dalam kenyatannya, perang melawan Iran yang berkelanjutan ini menunjukkan perencanaan perang yang gagal total,” ucapnya.
Selain itu, Reza menilai klaim Trump ini telah dipersepsikan Iran sebagai ancaman serius atas peradaban Persia dan agama Islam. Karena itu, Iran wajib dihadapi dengan segala resikonya.
“Diperkirakan, perang akan berlanjut kembali. Di mana Iran sudah sangat percaya diri dan akan menggunakan perangkat perangnya yang paling mutakhir,” ujarnya.
Lebih lanjut, Reza menduga dalam waktu dekat Iran akan meminta ketegasan dari semua negara GCC, perihal posisi politik dan militer mereka dalam perang Iran melawan AS. Menurutnya, negara-negara GCC akan semakin sadar, jika AS dan Israel bukanlah lagi mitra strategis mereka. Turki dan Mesir juga akan menolak godaan Saudi Arabia untuk membangun koalisi guna menghadapi Iran.
“Ke depannya Iran akan memaklumkan keberaniannya untuk memerangi kekuatan manapun yang langsung maupun tidak langsung mendukung AS dan Israel,” imbuhnya.
Trump Sesumbar Bakal Klaim Selat Hormuz Jadi Wilayah AS
Trump, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa dirinya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah mengalahkan Iran dalam perang.
“Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” tegas Trump saat berbicara dalam kunjungan ke Akademi Kepolisian Nassau County yang baru di Garden City, New York, pada Jumat (14/8).
Presiden AS itu juga menegaskan bahwa blokade AS terhadap Selat Hormuz akan tetap diberlakukan, sembari menyatakan bahwa “tidak ada kapal yang bisa melintasi kecuali jika kita mengizinkannya”.
Isu Selat Hormuz terus menjadi perdebatan dan perselisihan dalam konflik antara Iran dan AS, dengan upaya diplomasi membahas pembukaan kembali jalur perairan strategis itu gagal membuahkan hasil konkret.
Para pejabat Iran telah berulang kali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama AS terus melakukan intervensi di kawasan, terutama memberlakukan blokade laut. Teheran juga menuduh Washington gagal memenuhi ketentuan dalam nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara.
Trump sebelumnya mengklaim bahwa AS memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz dan meyakini akan dapat mempertahankan kendali tersebut. Namun juru bicara komando terpadu militer Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaqari, langsung membantah klaim Trump tersebut.
“Tidak ada satu pun kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran,” tegasnya.