POLITIK

Prabowo Ajukan Destry dan Aida Pimpin BI, Said Abdullah: Pilihan Teknokrasi, Bukan Politik

Langkah Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Aida S Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior mendapatkan apresiasi dari parlemen.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menilai, keputusan presiden menyerahkan kemudi otoritas moneter kepada dua srikandi berpengalaman panjang itu merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap independensi BI.
“Namun, keduanya telah memiliki modal awal. Rekam jejak yang panjang adalah investasi kepercayaan dari para pelaku pasar. Hal ini tidak mudah bisa dipenuhi,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com,” Selasa (18/8/2026).
Said menilai, hal itu terlihat ketika Perry Warjiyo mengundurkan diri dari Gubernur BI dan pasar tampak tidak begitu bergejolak. Salah satu alasannya adalah kepemimpinan sementara BI yang dipegang oleh Destry dan tim.
Dia menyebutkan, memimpin BI di tengah dunia yang bergejolak tidaklah mudah. Namun, Destry dan Aida bukan orang baru di sektor keuangan.
Keduanya memiliki jejak panjang, sebelum masing-masing berkarier menjadi bagian dari pimpinan BI. Kini, estafet kepemimpinan BI tampaknya akan dipegang oleh keduanya bila DPR menyetujui.
“Pilihan Presiden Prabowo mengajukan Destry dan Aida adalah pilihan teknokrasi. Langkah ini menepis anggapan politisasi BI dan komitmen untuk menjaga pasar keuangan tetap kondusif,” katanya.
Di sisi lain, kata Said, pengajuan Destry dan Aida bisa dimaknai sebagai penghormatan terhadap independensi BI.
“Kami tidak ingin merusak independensi BI yang merupakan buah reformasi. Yang kita perlukan saat ini adalah peran masing-masing dengan kepemimpinan sektor keuangan yang jelas, terukur, serta memberikan kepastian arah kebijakan ke depan terhadap para pelaku pasar,” ujarnya.
Tantangan kebijakan moneter
Lebih lanjut, Said menggarisbawahi bahwa tugas BI kini tak sekadar menjaga nilai tukar rupiah dan meredam inflasi, tetapi juga menyokong pertumbuhan ekonomi serta usaha mikro kecil menengah (UMKM).
“Di balik mandat itu, sejujurnya kita belum memiliki “core kebijakan” yang memandu arah kebijakan moneter,” ungkapnya.
Dia mencontohkan, China memiliki arah kebijakan dengan kecenderungan melemahkan Yuan terhadap dollar Amerika Serikat (AS).
Dengan melemahkan Yuan, China membuat harga barang-barang ekspor lebih kompetitif di pasar global.
Hal itu pun membuat AS kelabakan dengan banjirnya produk China sehingga harus memasang penghalang dan memunculkan perang dagang.
Belum selesai dari masalah itu, meletus perang Rusia dan Ukraina pada 2022 yang mengakibatkan kenaikan harga komoditas global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *