Penulis sekaligus pendiri Mojok.co Puthut EA membahas perihal “mentalitet korea” dan “ilmu ndolop”.
Istilah itu diperkenalkan oleh anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, yang kemudian dituangkan dalam sebuah buku.
Puthut bilang, “korea” sedianya merupakan istilah populer di Jawa yang sudah ada sejak tahun 60-an.
Istilah “korea” semula merujuk ke orang dari kalangan bawah, namun berperilaku buruk.
“Pak Bambang Pacul membuat definisi baru tentang korea, yaitu orang-orang yang tidak berpunya, orang-orang yang dalam kesulitan hidup yang tinggi, yang tidak tahu nanti mau makan atau tidak,” kata Puthut dalam podcast Gaspol! Kompas.com, Selasa (1/9/2026).
Dari kemiskinan ekstrem itu, kata Puthut, terbangun mentalitas seseorang untuk “melenting” atau naik kelas. Sementara, untuk bisa melenting, seorang korea butuh seorang “galah”.
Berikutnya, Puthut bilang, demi mendapatkan “galah”, seorang korea biasanya menerapkan ilmu “ndolop” atau “umbang-umbang”, yakni berkata manis untuk tujuan tertentu.
“Rumus ndolop itu harus berdasarkan fakta, tapi dibungkus fiksi, enggak boleh ngarang,” terang Puthut.
Ilmu ndolop lumrah terjadi di level elite politik. Puthut menjelaskan, politikus melakukan “umbang-umbang” ke politikus yang jabatannya lebih tinggi bisa untuk tujuan pragmatis, situasi strategis, atau punya ideologi yang sama.
Puthut menyinggung perayaan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mengusung tema “Prabowonomics”.
Menurut dia, pada momen itu Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sedang melakukan “umbang-umbang” ke Prabowo pada level pragmatis.
Terlepas dari itu, kata Puthut, untuk seorang korea bisa melenting, ilmu ndolop saja tidak cukup.
Upaya itu harus dibarengi dengan memperkuat cara berpikir, jaringan, hingga ilmu.
“Ndolop hanya alat saja, harus diperkuat dengan kepribadian. Ndolop pintar, tapi kalau enggak punya kapasitas dia enggak akan bisa melenting,” tutur Puthut.